Langsung ke konten utama

Dua bulan berturut-turut terjadi gempa, ada apa dengan Indonesia?


Dua bulan berturut-turut terjadi gempa, ada apa dengan Indonesia?
Gempa bumi adalah getaran atau getar-getar yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa Bumi yang dialami selama periode waktu. Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer. Moment magnitudo adalah skala yang paling umum di mana gempa Bumi terjadi untuk seluruh dunia. Skala Rickter adalah skala yang dilaporkan oleh observatorium seismologi nasional yang diukur pada skala besarnya lokal 5 magnitude. Kedua skala yang sama selama rentang angka mereka valid. Gempa 3 magnitude atau lebih sebagian besar hampir tidak terlihat dan jika besarnya 7 lebih berpotensi menyebabkan kerusakan serius di daerah yang luas, tergantung pada kedalaman gempa. Gempa Bumi terbesar bersejarah besarnya telah lebih dari 9, meskipun tidak ada batasan besarnya. Gempa Bumi besar terakhir besarnya 9,0 atau lebih besar adalah 9,0 magnitudo gempa di Jepang pada tahun 2011 (per Maret 2011), dan itu adalah gempa Jepang terbesar sejak pencatatan dimulai. Intensitas getaran diukur pada modifikasi Skala Mercalli.

Ibnu Sina, seorang ilmuwan dan dokter Islam  mengutip beberapa pemikiran para ilmuwan Yunani mengenai gempa bumi yang terkadi akibat dorongan gas untuk kelaur dari dalam bumi. Namun, lambat laun ia menjelaskan pendapatnya sendiri bahwa gempa dikaitkan dengan adanya tekanan besar pada rongga udara di dalam bumi. Tekanan ini bisa berupa air yang masuk dalam rongga bumi.

Belum selesai evakuasi Korban gempa lombok, sebulan kemudian Indonesia kembali gempa sulteng [Sulawesi tengah]. Dua gempa tersebut cukup besar, sehingga gempa Lombok dan Sulteng masuk pada kategori Sejarah gempa bumi besar pada abad ke-20 dan 21 versi Wikipedia.

Pertama pada 5 Agustus 2018. Gempa bumi di Lombok, NTB, berkekuatan 7,0 Skala Richter dengan kedalaman 15KM. Gempa ini menelan 483 Meninggal Dunia, 417.529 jiwa mengungsi, 71.734 rumah rusak, 671 fasilitas pendidikan rusak, 115 masjid rusak, 65 fasilitas kesehatan rusak, 6 jembatan rusak.

Kedua pada 28 September 2018. Gempa Bumi di Sulawesi Tengah, berkekuatan 7,4 Skala Richter dengan kedalaman 10 km. Gempa bumi ini berpusat di Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala dan mengakibatkan Tsunami lokal setinggi maksimal 6 meter di Kota Palu dan pesisir Teluk Palu. Gempa dan Tsunami ini mengakibatkan korban tewas sebesar 832 jiwa dan puluhan ribu orang mengungsi ke dataran tinggi. Gempa ini juga terasa sampai di Kota Mamuju dan di kota-kota pesisir Kalimantan Timur seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.

Apabila memang suatu bencana dikaitkan dengan dosa manusia karena banyaknya kemaksiatan yang terjadi, perintah agama yang dilalaikan dan orang-orang miskin yang ditelantarkan, maka Allah berfirman dalam QS Al-Isra’ : 17 

“Jika Kami berkehendak untuk mengncurkn negeri, Kami memerintah orang-orang yang hidup mewah, namun mereka berdurhaka dalam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Namun, apabila dikaitkan dengan gejala alam yang memang harusnya terjadi, sebab Dunia Menurut Islam adalah sementara dan bumi ini khususnya Indonesia berada pada bagian bumi yang rawan gempa. Kemudian merujuk pada hukum alam yang sudah menjadi ketetapan Allah bahwa bumi ini mengandung segala hikmah dan manfaat termasuk pergerakan gunung dan lapisan dalam bumi, maka Allah berfirman dalam QS. Al-Naml : 27 yaitu

“Dan kamu  sangka gunung-gunung itu tetap ada di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak seperti awan yang bergerak. Allah telah membuat segala sesuatu dengan kokoh. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam Al-Quran sendiri ada banyak sekali ayat yang membahas tentang bencana alam seperti berikut ini:

[QS. Al- An’aam : 65] "Katakanlah : Dia yang berhak mengirim azab dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia mengelompokkan kamu dalam golongan agar sebagian kamu merasakan keganasan. Perhatikanlah, Kami mendatangkan kebesaran agar kamu memahami".
[QS. Al’Ankabuut : 37] "Mereka mendustakan Syu’aib hingga ditimpa gempa dahsyat dan mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggalnya".
[QS. Al-Israa : 59] "Dan Kami memberi tanda-tanda itu untuk menakut-nakuti".
[QS. Fushilah : 53] "Kami menunjukkan tanda-tanda (kekuasaan) kepada mereka, sehingga jelaslah bahwa Al Quran adalah benar. Dan Rabb mu adalah cukup bagimu sebab Dia menyaksikan segala sesuatu".
[QS. Asy-Syuura : 30] "Dan musibah apapun yang kalian terima adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, Allah memaafkan sebagian dari kesalahan-kesalahanmu".
[QS. An-Nisaa : 79] "Nikmat apapun itu adalah berasal dari Allah, dan bencana ap saja yang datang adalah karena kesalahan dirimu sendiri".

Lantas Dua bulan berturut-turut terjadi gempa, ada apa dengan Indonesia?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pak. Kani tegaskan "Jihad Pemuda Persis Depok harus didukung"

Allah berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. “(Q.S.Al Kahfi :13). Kemudian, Kata Bung Karno [Proklamator Indonesia] Berikan Aku seribu orang tua maka akan kucabut akar semeru. Tetapi berikan Aku sepuluh Pemuda yang cinta bangsanya, maka akan Aku guncangkan Dunia.  Yang di atas adalah sebagian Motivasi dalam gerakan Jihad Pemuda Persis Depok. Dua Tahun belakang [2017-2018] Pemuda Persis Depok muncul kembali pada permukaan Jihad di Kota Depok yang sebelumnya mengalami pasang-surut gerakan atau biasa disebut dinamika. Silaturahim dengan Pak. Kani [Jamaah Persis Depok] salah satu program Pemuda Persis Depok. Raihan [Perwakilan] yang menghadiri ke Rumah Beliau di Perumahan Hill Top, Sukmajaya-Depok pada Sabtu sore [02.02.19]. Pertemuan tersebut selain Silaturahim juga membicarakan gerakan-gerakan Jihad Pemuda Persis Depok ke D...

Menentukan Masa Depan Dalam 30 Menit

Menentukan Masa Depan Dalam 30 Menit Tulisan ini adalah bekal dalam penyampaian halaqah [ha·la·kah n 1 cara belajar atau mengajar dng duduk di atas tikar dng posisi melingkar atau berjejer; 2 sarasehan-KBBI]. Halakah antara Penulis dengan Para Santriwati Ponpes Minhajul Falah, Jasinga-Bogor. Diawal Ramadhan 1439 H ini Kami adakan halaqah dari pukul 17.00 WIB sampai menjelang adzan maghrib. Sebenarnya ini adalah bagian dari kegiatan Jaulah [Baca: http://raihanmuhammad27.blogspot.co.id/2018/05/lika-liku-jaulah-ramadhan-1439-h.html?m=1]. Pada kesempatan halakah sore ini [26.05.18], Penulis menyampaikan tentang masa depan. Meskipun hanya dalam waktu sekitar 30 menit, suasana halakah cukup interaktif. Karena objekanya adalah pelajar atau Santri, maka bicara seputar perkuliahan dan pernikahan adalah hal yang menarik. Dalam kesempatan barusan, Penulis mengatakan bahwasanya Teman-teman di Pesantren hanya tinggal tiga tahun, dua tahun, setahun, atau barangkali tahun ini ada yg akan lulus....

Mahasiswa dan Agent Of Change

Mahasiswa dan Agent Of Change adalah koin mata uang yang mempunyai dua sisi. Dan keduanya saling menguatkan. Jika salah satu keduanya tidak berfungsi maka nilai pada mata uang tersebut akan menurun. Dan itu yg tidak diharapkan. Kata besar pada perubahan dijelaskan dan dipertegas di dalam Al quran. Allah Swt berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11]. 1908. Refleksi pada sejarah pergerakan Mahasiswa Indonesia bisa kita mulai pada Boedi Oetomo. Boedi Oetomo, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme [pri·mor·di·al·is·me n perasaan kesukuan yg berlebiha...