Sore hari di dalam kamar. Menghirup udara senja di samping jendela. Seorang diri sedang berfikir tentang kemarin, sekarang, dan esok. Mataku jadi saksi bahwasanya langit sedang sepi burung yang terbang. Sunyi dari kicauannya. Tapi tidak mengurangi cantiknya suasana senja yang Tuhan ciptakan. Hanya ada layangan putus warna merah biru yang terombang-ambing ke arah atap rumah tetanggaku.
Lokasi kamarku di lantai dua, di pojok rumah. Hanya berukuran sekitar 3 x 3 Meter. Di kamar Aku punya dua jendela, satu ke arah barat dan satu ke arah utara. Saat ku buka jendela suara kendaraan terdengar kadang bising. Bisa dibayangkan. Karna jarak diantara keduanya cukup dekat. Hanya sekitar seratus meter. Tapi Aku tidak bisa melihat kuda besi di sepanjang jalan raya tersebut, karna terhalang cakaran atap rumah para tetangga. Dari sini Aku bisa melihat warna atap mereka.
Sepekan kebelakang waktuku terkuras di surga rumahku. Rumahku Kemasan gubuk kualitas surga. Tapi bukan surga ini selamanya tidak membuat ku nyaman. Aku tidak bisa senantiasa dalam situasi seperti ini. Mataku bisa sempit memandang luasnya dunia. Pemikiranku bisa tumpul dalam menganalisa konspirasi dunia. Aku bisa lambat berlari dalam merealisasikan planku. Diamku bukan ke arah kebangkitan, malah menuju kejumudan.
Ada Layangan putus lagi, sekarang warna kuning hitam, ke arah yang sama
Aku coba tulis narasi yang tidak akan basi tuk disantap ketika Aku bahkan Saudara baca. Kususun diksi demi diksi yang sistematis. Menyusun ke arah wajah estetika. Huruf yang melahirkan kalimat, campur tangan suku kata yang mengindahkan paragraf. Mengokohkan satu tema. Hanya satu kata, BANGKIT!
Yang dibaca bisa abadi, Semoga istiqomah
Fatih

Komentar
Posting Komentar