Langsung ke konten utama

Bab Cikuray



Saat itu sedang berlangsung Ifthar Jama'i/ Buka Bersama [14.06.18] yang diselanggarakan oleh Pantia Ramadhan Bangkit 1439 H di Sekretariat PC. Persis Cimanggis. Saya sengaja mengundang Teman-teman Pemuda agar lebih bisa memberikan warna progresif pada Ifthar tahun ini. Sayangnya dari semua yang diundang hanya beberapa yang bisa hadir. Banyak alasan dari ketidakhadiran Mereka, padahal eksistensi Mereka [baik Wujud maupun kontribusi] sangat dibutuhkan oleh Masyarakat, terkhusus Masyarakat Persis Cimanggis. 

Salah satu dari perwakilan Pemuda adalah Ican. Saat ngobrol singkat, ada obrolan kalau Ican rencana muncak Cikuray dari tanggal 20-24 Juni 2018 [Rabu-Ahad]. Mengetahui hal tersebut Saya langsung melihat Agenda apakah bisa ikut/ tidak. Terakhir muncak tahun lalu ke Gn. Gede [Via Cibodas] bersama Teman-teman Jamnas 1 Kebangsaan dan kewirausahaan, saat itu sangat menguntungkan bagi Kami. Karna disponsori oleh Avtech. Dan ternyata Agenda mendukung, Agenda Saya kosong tanggal-tanggal tersebut. Langsung Saya kabari Ican saat itu juga Insyaallah Ikut muncak. Enam hari cukup tuk persiapan Muncak.

Saya mencoba mengenal lebih dalam apa itu Alam sejak masuk Sapala 67 [Santri Pencinta Alam] di Pesantren. Di Sapala Kami dididik sebagaimana Alam mendidik Manusia. Gunung salah satu media pembelajaran Kami. Gn. Galunggung, Gn. Guntur, dan Gn. Gede sedikit menjadi bagian pembelajaran Saya. 

Tibalah saatnya Kami berangkat ke Cikuray. Persiapan cukup matang. Saya bersama Ican dan Temannya [Upi] menunju Garut via Motor. Start pukul 06.00 WIB via Jonggol. Kami berhenti dua kali tuk makan dan Isi tangki. Depok-Garut Motor Saya hanya menghabiskan sekitar 35rb utk premium. Alhamdulillah Kami sampai Garut dengan lancar dan selamat pada pukul 12.00 WIB. Awalnya Saya janjian dengan Teman Pesantren yang dari Banjar dan dari Tuan rumah [Garut]. Sayangnya yang dari Banjar tidak bisa ke Lokasi karna Problem Transport dan yang dari Garut karna Problem misskom. Sebelum ke basecamp Cikuray [Via pemancar]. Kami Sholat di Masjid [Kerkop/ dekat Sekret PD. Persis Garut]. 

Pada pukul 14.00 WiB Kami lanjutkan perjalanan ke Basecamp Cikuray [Via Pemancar]. Dari pusat kota ke Basecamp menempuh waktu sekitar 90 menit. Yang membuat lama di Lokasi sebelum Basecamp. Karna lokasi tersebut memiliki trek/ jalan yg cukup sulit dilalui [jalan bebatuan, lumpur, dan tanjakan]. Kami sudah sepakat untuk menggunakan Motor sampai Basecamp. Padahal yang Kugunakan adalah Supra X. Cukup memaksakan keadaan. Sedangkan Ican dan Upi motor Vixion. Lumayan. Alternatif untuk dapat ke Basecamp selain kendaraan pribadi adalah dengan Angkutan umum. Dari Term. Guntur naik Angkot sekali. Kemudian naik pick up. Biaya angkot sekitar 5rb dan pick up 25-50rb tergantung negosiasi.

Sebelum sampai Basecamp, Kami melewati kebun dayeuhmanggung. Disana dikenakan tiket sebesar Rp.10.000. Beruntung Kami, saat itu sedang ada pertunjukan adu Bagong [Babi Hutan], jadi bisa lihat. Sampai Basecamp Alhamdulillah pukul 15.30 WIB. Kami titipkan Motor [biayanya 10rb] dan istirahat. 30 menit kemudian Kami langsung naik. 

Dari Basecamp ke Puncak Cikuray umumnya memakan waktu delapan jam. Dari Basecamp ke Pos 1 hanya sekitar lima menit. Dari Basecamp ke Pos 1 Kami bersama rombongan lain. Tergelar juga pemandangan kebun teh yang indah. Di Pos 1 tempat pendaftaran bagi Para pendaki. Infaq sebesar Rp.15.000/ Orang. Dan disana masih ada beberapa warung. Dan tembok Cikurai. Banyak pendaki yang mengabadikan dengan berfoto.

Kami lanjutkan perjalanan. Saat itu  langit sudah cukup gelap. Karena memang waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Tapi Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu Kami bareng rombongan dari Garut. Mereka berjumlah sembilan Orang. Cemistri muncak sudah mulai Kami rasakan. Alam telah menyambut Kami. Gelap, dingin, berat karena ransel. Hujan pula. Pada suatu titik ada dua jalur [kiri dan kanan], Kami ambil kiri. Sayang, diantara Kami ada yang merasa salah jalur, "harusnya Kita ambil kanan" Ujarnya. Kami sempat polemik. Karena dia pernah ke Cikurai sebelumnya. Kami ikuti Ia. Singkat cerita Kami sampai di Pos 2 pada pukul 20.00 WIb, kami mendirikan tenda dan bermalam disana. Sebelum istirahat Susu, nasi, tongkol, dan sedikit tempe masuk ke dalam perut kami. 

Bangun, sholat, sarapan, lipet tenda, selanjutnya kami lanjutkan perjalanan. Dari pos 2  Kami melanjutkan perjalanan pukul 08.00 WIB. Rombongan Kami yang dari Garut sudah terlebih dahulu naik. Sebelum naik Kami tidak lupa membawa sampah kami kembali. Pos 3 sampai puncak/ Pos 8 kira2 dari pos ke pos selanjutnya memakan waktu sekitar 60 menit. Di perjalanan kami berjumpa para pendaki dari berbagai daerah. Ditemani juga dengan pemandangan eksotik. 

Singkat cerita Kami sampai di Pos 5 pukul 12.00 WIB. Disini satu-satunya Pos yang Kita bisa dapatkan air. Di Cikurai ini memang sulit mendapatkan mata air. Di Pos inI pun ada karna menggunakan mesin janset. Dan itupun dijual. Harganya Rp.10.000/ derijen. Pas sekali. Persediaan air Kami berkurang. Di Pos 5 ini Kami Istirahat dan Sholat. Di Pos ini juga Kami bisa melihat Bagong [Babi Hutan]
Dua jam selanjutnya Kami lanjutkan perjalanan. Ransel kami titipkan karena tidak akan lama tuk bisa mencapai puncak. Mengurangi beban Kami pula. Ternyata benar. Dari pos 5 sampai ke Puncak hanya menempuh sekitar 90 menit. 

Tibalah Kami di Puncak Cikurai. Kalimat pertama yang Kami ucapkan dari kedua bibir adalah Kalimat Alhamdulillah. Rasa syukur yang Kami rasakan. Bayangkan, perjalanan Kami yang padat, cukup memaksakan. Capek kita lunas oleh pemandangan puncak. Meskipun Kami tidak mendapat Sunset ataupun sunrise, tapi pemandangan ini sudah cukup luar biasa. Di puncak tertinggi di Garut ini Kita bisa melihat Gn. Guntur. Kami juga bertemu kembali rombongan yang dari Garut. Kami mengabadikan dengan berfoto dan video. Sayangnya puncak saat itu kurang terjaga lingkungannya. Sampah berserakan dan bangunan pos yang banyak coretan. Sebelum turun tidak lupa Saya bertafakur. Ini yang menjadi kegiatan utama saat muncak.

Kami turun pukul 16.00 WIB. Sampai Pos 4 sekitar pukul 17.30 WIB. Kami dirikan tenda. Bermalam disana. Istirahat malam kali ini lebih nyaman dari malam kemarin. Tidak gelap dan juga dingin. Istirahat malam ini harus cukup, karena esoknya diperkirakan langsung pulang ke Depok. Ternyata benar, istirahat ini cukup panjang. Disana hujan baru berhenti pukul 10.00 WIB. Saat itu juga Kami langsung bergegas turun. Waktu tempuh naik dan turun tentu berbeda. Kami turun lebih cepat ketimbang naik. Pukul 15.00 WIB Kami sampai Basecamp. Setelah istirahat di basecamp tidak lama kemudian Kami Otw Depok. Sebelumnya Kami bebersih terlebih dahulu di Masjid dekat darul arqam. Disana pula Temanku yg kemarin lusa Misskom menyempatkan berjumpa. 

Bebersih, bercakap-cakap, makan akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang. Dari sini memulai perjalanan pukul 17.00 WIB. Karna perjalanan malam, Kami menempuh jalur Puncak. Ini karena keamanan. Sampailah di Depok pukul 23.0 WIB. 








Alhamdulillah, perjalanan yang cukup padat, melelahkan, juga menyenangkan. Semoga perjalanan ini bisa menjadi ajang pendekatan kepada Allah Swt. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pak. Kani tegaskan "Jihad Pemuda Persis Depok harus didukung"

Allah berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. “(Q.S.Al Kahfi :13). Kemudian, Kata Bung Karno [Proklamator Indonesia] Berikan Aku seribu orang tua maka akan kucabut akar semeru. Tetapi berikan Aku sepuluh Pemuda yang cinta bangsanya, maka akan Aku guncangkan Dunia.  Yang di atas adalah sebagian Motivasi dalam gerakan Jihad Pemuda Persis Depok. Dua Tahun belakang [2017-2018] Pemuda Persis Depok muncul kembali pada permukaan Jihad di Kota Depok yang sebelumnya mengalami pasang-surut gerakan atau biasa disebut dinamika. Silaturahim dengan Pak. Kani [Jamaah Persis Depok] salah satu program Pemuda Persis Depok. Raihan [Perwakilan] yang menghadiri ke Rumah Beliau di Perumahan Hill Top, Sukmajaya-Depok pada Sabtu sore [02.02.19]. Pertemuan tersebut selain Silaturahim juga membicarakan gerakan-gerakan Jihad Pemuda Persis Depok ke D...

Menentukan Masa Depan Dalam 30 Menit

Menentukan Masa Depan Dalam 30 Menit Tulisan ini adalah bekal dalam penyampaian halaqah [ha·la·kah n 1 cara belajar atau mengajar dng duduk di atas tikar dng posisi melingkar atau berjejer; 2 sarasehan-KBBI]. Halakah antara Penulis dengan Para Santriwati Ponpes Minhajul Falah, Jasinga-Bogor. Diawal Ramadhan 1439 H ini Kami adakan halaqah dari pukul 17.00 WIB sampai menjelang adzan maghrib. Sebenarnya ini adalah bagian dari kegiatan Jaulah [Baca: http://raihanmuhammad27.blogspot.co.id/2018/05/lika-liku-jaulah-ramadhan-1439-h.html?m=1]. Pada kesempatan halakah sore ini [26.05.18], Penulis menyampaikan tentang masa depan. Meskipun hanya dalam waktu sekitar 30 menit, suasana halakah cukup interaktif. Karena objekanya adalah pelajar atau Santri, maka bicara seputar perkuliahan dan pernikahan adalah hal yang menarik. Dalam kesempatan barusan, Penulis mengatakan bahwasanya Teman-teman di Pesantren hanya tinggal tiga tahun, dua tahun, setahun, atau barangkali tahun ini ada yg akan lulus....

Mahasiswa dan Agent Of Change

Mahasiswa dan Agent Of Change adalah koin mata uang yang mempunyai dua sisi. Dan keduanya saling menguatkan. Jika salah satu keduanya tidak berfungsi maka nilai pada mata uang tersebut akan menurun. Dan itu yg tidak diharapkan. Kata besar pada perubahan dijelaskan dan dipertegas di dalam Al quran. Allah Swt berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11]. 1908. Refleksi pada sejarah pergerakan Mahasiswa Indonesia bisa kita mulai pada Boedi Oetomo. Boedi Oetomo, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme [pri·mor·di·al·is·me n perasaan kesukuan yg berlebiha...