Menurut Saya jika bicara tentang Aktivis, tentu identik dengan dinamis [di·na·mis a penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dng keadaan dsb; mengandung dinamika, KBBI]. Etimologi Aktivis bagi Saya adalah bergerak. Ia akan bergerak kemanapun yang ia bisa. Dalam perspektif kali ini Saya hendak memposisikan sebagai Aktivis Mahasiswa.
Mahasiswa perlu jadi Aktivis. Karna itu akan menjauhkan dari Stagnan [stag·na·si n 1 keadaan terhenti (tidak bergerak, tidak aktif, tidak jalan, KBBI]. Dinamis yang di awal Saya sebutkan juga membelakangi Arti Statis. Jika Mahasiswa Statis atau Stagnan, mau jadi apa?. Tentu Mahasiswa punya beban besar bagi dirinya juga Masyarakat sekitar.
Tidak ada jalan yang lembut, begitu peribahasa Saya yang punya maksud seperti peribahasa tak ada gading yang tak retak. Banyak Aktivis yang sangat sibuk urusan Dunia, sampai Ia lupa urusan Surga. Aktivis sholat fardhu tepat waktu di Masjid itu sudah cukup keren. Karna tidak semua Aktivis bisa seperti demikian. Apalagi Sholat Tahajud, kadang kala waktu untuk tahajud dihabiskan untuk urusan Dunia.
Jika Kita refleksi kehidupan Syeikh Fudhail bin Iyadh, Ia pernah berkata: “Jika engkau tidak mampu menunaikan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya sedang dalam keadaan terhalang, karena dosa-dosamu begitu banyak.
Padahal tahajud punya nilai lebih dalam penguatan energi bagi aktivis. Allah SWT berfirman:
اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـاً وَّاَقْوَمُ قِيْلًا
inna naasyi`atal-laili hiya asyaddu wath`aw wa aqwamu qiilaa
"Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 6)
Saya hendak sampaikan, juga ajak Pembaca yang Budiman bahwasanya Aktivis dan tahajud tidak bisa dipisahkan. Mari kita juara di Dunia juga di Surga.
Wallahualam

Komentar
Posting Komentar