Pada 2 Oktober 2018 lalu Dunia dihebohkan dengan berita tewasnya Jurnalis dari Arab Saudi, Jamal Ahmad Khashoggi di Konsulat Saudi di Istanbul. Snowden: Arab Saudi Gunakan Spyware Israel Sadap Jamal Khashoggi. Dilansir Tempo. Turki. Wartawan yang lahir pada 13 Oktober 1958 di Madinah, Arab Saudi ini seketika menjadi perhatian Dunia. pada umur 59 tahun Beliau mengakhiri hidupnya dengan jadi kolumnis Washington Post, penulis, dan mantan manajer umum dan pemimpin redaksi Al Arab News Channel. Wartawan dengan Alma mater Universitas Negeri Indiana dikenal sebagai Kritikus utama Putra Mahkota dan pemimpin de facto Arab Saudi, Mohammad bin Salman, sejak Ia mengungsi dari Arab Saudi pada tanggal 18 September 2017.
Di dunia internasional, ia dikenal atas kontribusinya untuk Al Watan sehingga bisa menjadi ruang bagi kalangan progresif di Saudi. wartawan ini menjadi salah satu pemikir progresif yang paling banyak menyatakan pandangan tentang negaranya. Dia juga dipandang sebagai salah satu orang yang berada di dalam lingkaran sistem Saudi karena banyak mengenal orang penting. Ia juga bergaul dengan keluarga kerajaan [Wikipedia].
sekarang Beliau sudah tiada. Kerajaan Arab Saudi panjang nafas karna berkurangnya kritikus. Kerajaan akan semakin mempertebal mantel antikritik.
Menurut Saya hari ini perlu ratusan Khashoggi, khususnya di Arab saudi. Karna dari merekalah Publik bisa lihat neraca keseimbangan Kekuasaan. Apalagi jika pemerintahan yang monarki/ Kerajaan. Perlu kritik objektif.
Khashoggi juga memberikan pelajaran bagi Dunia. Sifat beraninya dalam mengkritik perlu ditiru. Jika Kita refleksi indonesia juga punya kritikus yaitu Soe Hok Gie. Kritikan Mereka sama kepada pemerintahnya masing-masing. Apalagi Gie mengkritik pemerintah yang diduduki Teman seperjuangan.
Kita perlu ingat: Qulil Haqqa walaw kana muron [Katakanlah yang benar meskipun pahit]
wallahualam

Komentar
Posting Komentar